Jumat, 20 Agustus 2010

Ikan Red Devil

Katalog Ikan Hias




Termasuk dalam jenis siklid. Dan bisa dibilang ikan hibrid Louhan yang pernah nge-trend juga mempunyai darah hasil persilangan dengan Red Devil dengan jenis siklid lainnya.
Ikan ini punya kelebihan. Selain nama populer yang keren mirip dengan julukan klub papan atas Manchester United, ikan ini juga dikenal memiliki warna yang indah. Jika terawat sempurna, warna ikan ini bisa mencapai orange kemerahan. Namun kebanyakan warna pada umumnya adalah kuning jeruk.
Selain itu, ikan ini memiliki ciri-ciri matanya yang merah dan terdapat jenong dikepala untuk jantan  ukuran dewasa matang kelamin. Tentunya ikan ini jenis predator juga. Karnivora dan petarung teritorial handal. Sisi menarik lainnya yang saya suka adalah ikan jenis ini mudah dikembangbiakkan. Sama dengan ikan Mujair, ikan ini termasuk kategori good parent. Dia akan melindungi anak anaknya sampai ukuran mandiri. Hanya saja bukan mouthbreeder yang menjaga anak-anaknya dalam mulut seperti ikan mujair.
Kembali ke kabar dari teman saya itu. Dikatakannya ikan favorit kami itu kini telah menjadi hama di perairan Indonesia. bahkan menurutnya, sekarang Red Devil sudah beralih jabatan dari ikan hias menjadi kripik ikan, dan itu telah diulas salah satu TV swasta. 
Setelah tahu lalu apa yang ada dalam benak saya? merasa bersalah tentunya. Ikan Red Devil bukanlah ikan asli perairan Indonesia. Ikan ini ikan asli perairan Amazon, perairan Amerika. Saya merasa bersalah karena secara tidak langsung ikut menyukseskan invasi besar-besaran red devil ke sungai, tambak dan waduk Indonesia.
Selama kurun tahun 1999 – 2003, kolam ikan saya di rumah termasuk produktif menghasilkan ikan-ikan red devil. Tapi bukan untuk produksi dijual lagi. Hanya untuk kesenangan saja membiakkan. Dari ratusan anakan yang tumbuh, hanya kira2 sepuluh ikan yang dapa survive sampai ukuran remaja dan dewasa. Lainnya? terkadang dimangsa ikan lain nya yang berada di kolam atau ikut terbuang saat proses pengurasan kolam. Nah, yang terakhir ini yang membuat saya merasa bersalah. Ikan jenis ini tergolong survive dengan segala kondisi air. Bisa jadi ikan yang ada di sungai atau di tambak, adalah dari kolam saya. :(
Saya ingat betul pada tahun 1999, di toko ikan hias, red devil dewasa hanya dihargai kurang dari Rp10.000. Murah meriah memang ikan ini dulu. Dan menginjak jaman keemasan Louhan, ikan ini juga sempat ikut naik harganya karena bisa dikatakan Red Devil juga moyangnya Louhan. Nah, kalau saat ini Red Devil di Indonesia berubah menjadi kripik, mungkin sudah takdirnya karena perangainya sendiri. Tapi saya mungkin tetap punya andil membawa ikan mata merah ini ke penggorengan. :D
Maaf buat perairan Indonesia. Maaf juga buat RedDevil, di Indonesia kini kisahmu hanya sampai di kemasan plastik berlabel Kripik Ikan Enak bu Siti asli Dusun Soka, Hargowilis, Kokap, Kulon Progo. Semoga dengan notes ini para hobiis dapat mengambil suatu pesan moral. Hati-hati dengan peliharaan anda! Memeliharalah dengan bijaksana. Jangan sampai kejadian enceg gondok, piranha dan red devil menghapus kekayaan flora dan fauna Indonesia. ^_^

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar